Padang, Agustus 2011
+/-10.00 WIB
Tiga orang gadis kecil berlari menghampiri mobil
lalu bernyanyi
diiringi gemerincing alat musik
Mengapa masih di luar gadisku?
Bukankah kau harus di rumah?
Kemana ibumu?
Kemana bapakmu?
Atau kemana aku harus bertanya tentang kau yang seperti itu?
Sabtu, 01 Oktober 2011
Jumat, 03 Juni 2011
Pentingnya menanamkan kejujuran
kepada anak sejak dini..
Berapa banyak kasus korupsi yang terjadi di Indonesia? Mulai dari kelas teri sampai yang kakap? Indonesia telah mencatat prestasi hebat sebagai negara terkorup ke-4 di Asia. Ini tak bisa dipungkiri, kita tidak bisa menyurukkan wajah ‘bopeng’ kita di kancah internasional. Pantas saja bapak Taufik Ismail berteriak “Malu aku jadi orang Indonesia”.
Fenomena korupsi sebenarnya berakar dari tidak tertanamnya mental kejujuran dan amanah pada para pemimpin maupun pegawai-pegawainyanya. Padahal sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia sepatutnya kita mencontoh keteladanan yang telah diajarkan Rasulullah Saw untuk berlaku benar ‘shiddiq’ termasuk berperilaku jujur dan amanah dalam mengemban semua tanggung jawab. Untuk itu, penting kiranya menanamkan nilai-nilai kejujuran kepada anak sejak dini karena merekalah yang nantinya akan melanjutkan tongkat estafet perjuangan bangsa ini menuju kemakmuran.
Lalu, bagaimana caranya? Tentu saja dimulai dari keteladanan yang diberikan oleh orangtuanya di dalam keluarga. Sebagaimana yang kita tahu bahwa “Parents are the role model for their children”. Apapun perkataan dan perbuatan orangtua akan ditiru oleh anak-anaknya, baik maupun buruk. Karena mereka bagaikan kertas putih (blank slate) yang siap merekam setiap apa yang mereka lihat dan mereka dengar dari orangtuanya. Orangtuanyalah yang akan menggoreskan tinta di atas kertas putih itu. Apakah nantinya akan tercipta gambar yang indah ataupun sebaliknya. Jadi, orangtua hendaklah bertindak jujur baik dalam setiap ucapan maupun perbuatannya kepada anak-anaknya. Mulailah dari hal-hal yang kecil. Karena hal sekecil apapun akan berbekas di pikiran maupun dalam perasaan anak. Dengan menanamkan bibit kejujuran kepada anak sejak dini insyaallah mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang dipercaya kelak ketika mereka memimpin negeri ini.
Di sini tampak sekali akan pentingnya peran seorang ibu sebagai madrasah pertama bagi buah hatinya. Untuk itu baik kiranya bagi ibu-ibu maupun calon ibu untuk selalu membenahi dan mempersiapkan diri sebagai suri tauladan yang baik bagi anak-anaknya dengan menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW tidak hanya kejujuran, tetapi juga sifat-sifat lainnya seperti amanah, qanaah, istiqomah, rendah hati, empati, sabar, optimis, tawakal kepada Allah SWT, dll. Tentu kita semua masih ingat dengan sebuah ungkapan yang menyatakan “Baik atau buruknya suatu negara ditentukan oleh wanitanya”. Jika wanitanya baik maka baiklah negara itu dan sebaliknya.
Mudah-mudahan kita bisa memetik hikmah dari tulisan ini dan menjadikannya sebagai bahan renungan sekaligus mengintrospeksi diri. Semoga bangsa ini bisa terlepas dari jerat korupsi yang telah membudaya/menggurita. Ini memang bukan perkara mudah, akan tetapi bersama-sama kita harus selalu optimis. “If you think you can, InsyaAllah you can!” Apabila Anda yakin Anda bisa, insyaAllah Anda bisa. Semoga Allah SWT meridhoi. Amin ya Robbal Alamin.. ^_^
(Sedikit menuangkan apa yang ada di kepala).
Senin, 04 April 2011
Aku dan adikku..
Saat adikku melampiaskan hobi bermain musiknya dengan ‘ngejreng-ngejreng’ gitar di kamarnya dan menyenandungkan lagu-lagu kesayangan,
Akupun berkata “Alangkah indahnya jika suara merdu ini digunakan untuk mengaji..”
Lalu alhamdulillah setiap malam habis shalat magrib insyaAllah dia mengaji, melantunkan ayat-ayat suci Al.Qur’an.
***
Saat bumi berguncang menghentak-hentak,
Lalu rumah berderak-derak, kemudian retak,
Pohon-pohonpun berayun mengikuti irama gempa.
(Bertasbih)
“Allahuakbar.. Allahuakbar..!”
“Laa Ila Ha Ilallah..”
Gempa reda.
Aku bilang “Coba lihat langit, mana tahu ada awan Allah..”
Ditatapnya langit, mencari-cari.
“Iya, ada..!” seru adikku sambil menunjuk-nunjuk.
“Ambil kamera..” kataku.
Dijemputnya handphone ke dalam rumah.
Benar katanya. Terlihat awan, bergelombang. Lalu tersusun lafaz “ALLAH”. Lalu “Muhammad”. “ALLAH” lebih besar lagi. Berganti “Muhammad”. “ALLAH” lagi yang lebih besar. “Muhammad” lagi. Begitu seterusnya berulang kali.
Sejak kejadian gempa itu Alhamdulillah adikku rajin mengerjakan shalat tepat waktu.
***
Sebelum tidur kuminta adikku untuk membaca “Allah bersamaku, Allah melihatku, dan Allah menyaksikanku” sebanyak 10 kali di dalam hati setelah membaca doa sebelum tidur. Aku gak tau apakah sekarang dia masih membacanya atau tidak, entahlah.
Mudah-mudahan masih.
Bacaan tadi kudapatkan dari salah satu buku Kang Abik berjudul “Ketika Cinta Berbuah Syurga”. Konon ada seorang ulama bernama Imam Shal bin Abdullah Al-Tastari yang semasa kecilnya diajari oleh pamannya yang bernama Muhammad bin Sanwar kalimat-kalimat pengusir maksiat. Kalimat itu berbunyi “ allahu ma’i… Allahumma naadhiri.. allhumma syahidi..” (Allah Bersamaku, Allah Melihatku, Allah menyaksikanku..”. Pamannya menyuruh beliau melafazkan kalimat-kalimat ini saat berganti pakaian dan ketika hendak tidur sebanyak 3 kali. Lalu setelah bermalam-malam pamannya meminta beliau untuk membacanya sebanyak sepuluh kali. Begitulah seterusnya..
(Belajar Menulis)
J.K Rowling said,
“Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang
pengalaman dan perasaanmu sendiri. Itulah yang saya lakukan”. ^ ^
Senin, 28 Maret 2011
Berapa banyak?
Berapa banyak keringat
Berapa banyak darah
Berapa banyak air mata
Berapa banyak harta
Berapa banyak nyawa
Berapa banyak penderitaan
yang telah dibayarkan demi satu kata,
Kemerdekaan!
Lalu, berapa banyak sumbangsihmu
untuk mengisi kemerdekaan itu?
Bangkitlah pemuda Minang!
Sudah tidak diragukan lagi bahwa ranah Minang ini telah banyak melahirkan pemimpin-pemimpin besar seperti Moh. Hatta, Moh. Nasir, Moh. Yamin, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Buya Hamka, H. Agus Salim, dan sebagainya. Namun apa yang terjadi sekarang? Negeri ini seperti jatuh terperosok serta terbenam ke dalam lubang yang dalam. Pemimpin-pemimpin seperti beliau-beliau di atas sudah tidak ditemukan lagi.
Apa yang menyebabkan ini semua terjadi? Apakah generasi muda sekarang telah dininabobokkan oleh nyanyian-nyanyian keberhasilan di masa silam? Atau sedemikian besarnya pengaruh media yang telah merecoki pikiran-pikiran mereka dengan tayangan-tayangan yang tidak mendidik itu?
Buya Hamka yang memberikan pengantar dalam sebuah buku karya Tan Malaka berjudul “Islam Dalam Tinjauan Madilog” (1986) menyatakan bahwa untuk membela agama kita perlu memperluas pengetahuan, seperti di bidang sosiologi, dialektika, logika, dan lain sebagainya. Penulis berpendapat perlunya menambah pengetahuan tidak hanya untuk membela agama, akan tetapi juga negara dan bangsa.
Penulis merasa iri ketika membaca artikel dalam sebuah Blog mengenai seorang mahasiswi asal Belanda yang melakukan penelitian tentang hukum di Indonesia. Penelitiannya itu dilakukan di Yogyakarta. Si penulis Blog yang mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta menuturkan kembali cerita dosennya tentang mahasiswi asal Utrecht University ini. Sungguh luar biasa, dalam satu hari mahasiswi Belanda ini menyediakan waktu selama 8 jam untuk membaca, sehingga dalam satu minggu beliau dapat menyelesaikan 5 buah buku tebal-tebal. Menyimak fenomena ini, pantaslah dahulu bangsa Belanda menjajah kita sekian abad lamanya. Bagaimana dengan kita? Berapa lamakah waktu yang kita sediakan untuk membaca setiap harinya? Atau berapa banyakkah buku yang kita baca setiap minggunya?
Lain lagi yang terjadi dengan pemuda-pemuda intifadah yang ada di Palestina. Pemuda Palestina sangat serius menghidupkan kembali masjid-masjid, bukan hanya untuk sholat tapi juga untuk belajar, pertemuan, kajian dan sebagainya. Mereka senantiasa berinteraksi dengan Al. Qur’an. Tilawah Qur’an setiap hari dan menghafalnya adalah kewajiban harian mereka. Tidak heran kalau pemuda-pemuda Palestina menjadikan syahid sebagai dambaan yang tiada terkira, karena santapan Qur’an sudah membuat mereka pada taraf ‘menjual diri pada Allah’ (Annida, Desember 2004).
Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai pemuda Minang hari ini? Penulis menghimbau rekan-rekan sekalian untuk menjiwai kembali spirit perjuangan tokoh-tokoh besar Minangkabau di era perjuangan kemerdekaan dulu. Hayatilah ide-ide serta nilai-nilai yang terkandung di dalam karya-karya mereka. Bangkitlah saudaraku! Jangan tanyakan apa yang telah diberikan oleh bangsa ini kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang telah kau berikan untuk bangsa ini.
Mimpi Itu..
Sendiri,
Aku berlari dan berlari.
Melewati semak-semak, belukar, ilalang kuning yang kering di tepi kiri jalan.
Makam,
Malam kelam.
Srigala mengintai,
Tajam,
Sorot matanya.
Ada sungai besar dan dalam di tepi kanan jalan.
Jembatan membelah sungai.
Aku terus berlari, tak tau apa yang mau dicari.
Kuikuti saja jalan aspal lurus yang panjang itu.
Matahari merah,
Ada rona kuning keemas-emasan.
Kemudian gelap dan pekat
Yang tidak begitu pekat.
Teseok-seok.
Lelah dan letih.
Gontai dan lunglai.
Haus,
Peluh meleleh,
Tubuh berdebu.
Kumal,
Dekil.
Aku terus berlari,
Sendiri.
Di jalan lurus itu.
Lelah,
Akhirnya sampai juga.
Ada air terjun.
Putih.
Mengalir
Sungai yang jernih.
Batu-batu.
Sejuk, segar.
damai.
Ada beberapa orang disana,
Tapi aku tidak kenal.
Mungkin mereka sedang bertamasya.
Lalu akupun kembali,
Sendiri,
Menyusuri jalan yang tadi.
Malam,
Kelam.
Sungai,
batu-batu.
Lelah dan haus.
Lalu ke bukit.
Hijau tua.
Ada danau tiga warna di bawahnya.
Rumah panggung dari kayu.
Kemudian sungai mengalir ke hilir,
pondok-pondok.
Pohon-pohon.
Lalu Papa.
Kenapa ada Papa?
Sendiri lagi.
Ada tebat-tebat.
Berjalan aku di pematang tebat.
Sendiri.
Siapa pemilik tebat-tebat itu?
Entahlah, dia berkumis dan berkulit hitam.
Ada sebuah Mushola kecil.
Di sebelahnya ada sebuah pesantren yang berlantai dua.
Lalu, Perempuan-perempuan berkerudung dan mushaf.
Turun melewati tangga.
Kenapa aku hanya tergugu.
Termangu.
Terpatung di temapatku.
Lalu, anak-anak.
Mereka mandi di bak Mushola.
Airnya sejuk, segar, jernih.
Lompat-lompatan.
Bermain ciprat-cipratan.
Riang, tertawa gembira.
Kemudian ada stasiun.
Stasiun Kereta Api.
Sepi,
Sunyi.
Tak ada kereta yang lewat.
Kosong,
Relnya kosong,
Peronnyapun kosong ditinggal pergi.
Lalu datang dua orang perempuan berjilbab.
Ditariknya tanganku.
Dibimbingnya aku menyusuri sebuah Mushola.
Sebuah mushola kecil,
Lebih kecil dari Mushola yang tadi.
Lalu masuk.
Mushola penuh.
Semuanya perempuan bertelekung putih,
Kecuali satu,
Ada seorang bersorban dan berjubah putih bersih duduk di tengah; syaf pertama.
Dua perempuan tadi mendudukkanku tepat di depannya.
(Hatiku berkata bahwa mereka telah lama menanti-nantikan kehadiranku.
Semua mata memperhatikan).
Akupun
Tertunduk,
Terpekur.
Lalu menatap,
Wajah bercahaya itu,
Namun kabur.
Penuh kasih,
Penuh sayang.
Hanya satu yang bisa kutangkap dengan jelas;
Dagunya,
Dagu itu..
Dagu indah itu.
^_^
Subhanallah..
Dan,
Asholatukhoirumminannauam..(2x)
***
(belajar menulis)
Aku berlari dan berlari.
Melewati semak-semak, belukar, ilalang kuning yang kering di tepi kiri jalan.
Makam,
Malam kelam.
Srigala mengintai,
Tajam,
Sorot matanya.
Ada sungai besar dan dalam di tepi kanan jalan.
Jembatan membelah sungai.
Aku terus berlari, tak tau apa yang mau dicari.
Kuikuti saja jalan aspal lurus yang panjang itu.
Matahari merah,
Ada rona kuning keemas-emasan.
Kemudian gelap dan pekat
Yang tidak begitu pekat.
Teseok-seok.
Lelah dan letih.
Gontai dan lunglai.
Haus,
Peluh meleleh,
Tubuh berdebu.
Kumal,
Dekil.
Aku terus berlari,
Sendiri.
Di jalan lurus itu.
Lelah,
Akhirnya sampai juga.
Ada air terjun.
Putih.
Mengalir
Sungai yang jernih.
Batu-batu.
Sejuk, segar.
damai.
Ada beberapa orang disana,
Tapi aku tidak kenal.
Mungkin mereka sedang bertamasya.
Lalu akupun kembali,
Sendiri,
Menyusuri jalan yang tadi.
Malam,
Kelam.
Sungai,
batu-batu.
Lelah dan haus.
Lalu ke bukit.
Hijau tua.
Ada danau tiga warna di bawahnya.
Rumah panggung dari kayu.
Kemudian sungai mengalir ke hilir,
pondok-pondok.
Pohon-pohon.
Lalu Papa.
Kenapa ada Papa?
Sendiri lagi.
Ada tebat-tebat.
Berjalan aku di pematang tebat.
Sendiri.
Siapa pemilik tebat-tebat itu?
Entahlah, dia berkumis dan berkulit hitam.
Ada sebuah Mushola kecil.
Di sebelahnya ada sebuah pesantren yang berlantai dua.
Lalu, Perempuan-perempuan berkerudung dan mushaf.
Turun melewati tangga.
Kenapa aku hanya tergugu.
Termangu.
Terpatung di temapatku.
Lalu, anak-anak.
Mereka mandi di bak Mushola.
Airnya sejuk, segar, jernih.
Lompat-lompatan.
Bermain ciprat-cipratan.
Riang, tertawa gembira.
Kemudian ada stasiun.
Stasiun Kereta Api.
Sepi,
Sunyi.
Tak ada kereta yang lewat.
Kosong,
Relnya kosong,
Peronnyapun kosong ditinggal pergi.
Lalu datang dua orang perempuan berjilbab.
Ditariknya tanganku.
Dibimbingnya aku menyusuri sebuah Mushola.
Sebuah mushola kecil,
Lebih kecil dari Mushola yang tadi.
Lalu masuk.
Mushola penuh.
Semuanya perempuan bertelekung putih,
Kecuali satu,
Ada seorang bersorban dan berjubah putih bersih duduk di tengah; syaf pertama.
Dua perempuan tadi mendudukkanku tepat di depannya.
(Hatiku berkata bahwa mereka telah lama menanti-nantikan kehadiranku.
Semua mata memperhatikan).
Akupun
Tertunduk,
Terpekur.
Lalu menatap,
Wajah bercahaya itu,
Namun kabur.
Penuh kasih,
Penuh sayang.
Hanya satu yang bisa kutangkap dengan jelas;
Dagunya,
Dagu itu..
Dagu indah itu.
^_^
Subhanallah..
Dan,
Asholatukhoirumminannauam..(2x)
***
(belajar menulis)
Langganan:
Komentar (Atom)