Senin, 28 Maret 2011

Mimpi Itu..

Sendiri,
Aku berlari dan berlari.
Melewati semak-semak, belukar, ilalang kuning yang kering di tepi kiri jalan.

Makam,
Malam kelam.
Srigala mengintai,
Tajam,
Sorot matanya.

Ada sungai besar dan dalam di tepi kanan jalan.
Jembatan membelah sungai.

Aku terus berlari, tak tau apa yang mau dicari.
Kuikuti saja jalan aspal lurus yang panjang itu.

Matahari merah,
Ada rona kuning keemas-emasan.
Kemudian gelap dan pekat
Yang tidak begitu pekat.

Teseok-seok.
Lelah dan letih.
Gontai dan lunglai.

Haus,
Peluh meleleh,
Tubuh berdebu.
Kumal,
Dekil.

Aku terus berlari,
Sendiri.
Di jalan lurus itu.

Lelah,
Akhirnya sampai juga.

Ada air terjun.
Putih.
Mengalir
Sungai yang jernih.
Batu-batu.
Sejuk, segar.
damai.
Ada beberapa orang disana,
Tapi aku tidak kenal.
Mungkin mereka sedang bertamasya.

Lalu akupun kembali,
Sendiri,
Menyusuri jalan yang tadi.

Malam,
Kelam.
Sungai,
batu-batu.
Lelah dan haus.

Lalu ke bukit.
Hijau tua.
Ada danau tiga warna di bawahnya.

Rumah panggung dari kayu.
Kemudian sungai mengalir ke hilir,
pondok-pondok.
Pohon-pohon.
Lalu Papa.
Kenapa ada Papa?

Sendiri lagi.
Ada tebat-tebat.
Berjalan aku di pematang tebat.
Sendiri.
Siapa pemilik tebat-tebat itu?
Entahlah, dia berkumis dan berkulit hitam.

Ada sebuah Mushola kecil.
Di sebelahnya ada sebuah pesantren yang berlantai dua.
Lalu, Perempuan-perempuan berkerudung dan mushaf.
Turun melewati tangga.
Kenapa aku hanya tergugu.
Termangu.
Terpatung di temapatku.

Lalu, anak-anak.
Mereka mandi di bak Mushola.
Airnya sejuk, segar, jernih.
Lompat-lompatan.
Bermain ciprat-cipratan.
Riang, tertawa gembira.

Kemudian ada stasiun.
Stasiun Kereta Api.
Sepi,
Sunyi.
Tak ada kereta yang lewat.
Kosong,
Relnya kosong,
Peronnyapun kosong ditinggal pergi.

Lalu datang dua orang perempuan berjilbab.
Ditariknya tanganku.
Dibimbingnya aku menyusuri sebuah Mushola.
Sebuah mushola kecil,
Lebih kecil dari Mushola yang tadi.

Lalu masuk.

Mushola penuh.
Semuanya perempuan bertelekung putih,
Kecuali satu,
Ada seorang bersorban dan berjubah putih bersih duduk di tengah; syaf pertama.
Dua perempuan tadi mendudukkanku tepat di depannya.

(Hatiku berkata bahwa mereka telah lama menanti-nantikan kehadiranku.
Semua mata memperhatikan).

Akupun
Tertunduk,
Terpekur.

Lalu menatap,
Wajah bercahaya itu,
Namun kabur.
Penuh kasih,
Penuh sayang.

Hanya satu yang bisa kutangkap dengan jelas;
Dagunya,
Dagu itu..
Dagu indah itu.
^_^
Subhanallah..

Dan,

Asholatukhoirumminannauam..(2x)

***

(belajar menulis)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar