Senin, 28 Maret 2011

Berapa banyak?

Berapa banyak keringat
Berapa banyak darah
Berapa banyak air mata
Berapa banyak harta
Berapa banyak nyawa
Berapa banyak penderitaan
yang telah dibayarkan demi satu kata,
Kemerdekaan!
Lalu, berapa banyak sumbangsihmu
untuk mengisi kemerdekaan itu?

Bangkitlah pemuda Minang!

Sudah tidak diragukan lagi bahwa ranah Minang ini telah banyak melahirkan pemimpin-pemimpin besar seperti Moh. Hatta, Moh. Nasir, Moh. Yamin, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Buya Hamka, H. Agus Salim, dan sebagainya. Namun apa yang terjadi sekarang? Negeri ini seperti jatuh terperosok serta terbenam ke dalam lubang yang dalam. Pemimpin-pemimpin seperti beliau-beliau di atas sudah tidak ditemukan lagi.
            Apa yang menyebabkan ini semua terjadi? Apakah generasi muda sekarang telah dininabobokkan oleh nyanyian-nyanyian keberhasilan di masa silam? Atau sedemikian besarnya pengaruh media yang telah merecoki pikiran-pikiran mereka dengan tayangan-tayangan yang tidak mendidik itu?
            Buya Hamka yang memberikan pengantar dalam sebuah buku karya Tan Malaka berjudul “Islam Dalam Tinjauan Madilog” (1986) menyatakan bahwa untuk membela agama kita perlu memperluas pengetahuan, seperti di bidang sosiologi, dialektika, logika, dan lain sebagainya. Penulis berpendapat perlunya menambah pengetahuan tidak hanya untuk membela agama, akan tetapi juga negara dan bangsa.
            Penulis merasa iri ketika membaca artikel dalam sebuah Blog mengenai seorang mahasiswi asal Belanda yang melakukan penelitian tentang hukum di Indonesia. Penelitiannya itu dilakukan di Yogyakarta. Si penulis Blog yang mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta menuturkan kembali cerita dosennya tentang mahasiswi asal Utrecht University ini. Sungguh luar biasa, dalam satu hari mahasiswi Belanda ini menyediakan waktu selama 8 jam untuk membaca, sehingga dalam satu minggu beliau dapat menyelesaikan 5 buah buku tebal-tebal. Menyimak fenomena ini, pantaslah dahulu bangsa Belanda menjajah kita sekian abad lamanya. Bagaimana dengan kita? Berapa lamakah waktu yang kita sediakan untuk membaca setiap harinya? Atau berapa banyakkah buku yang kita baca setiap minggunya?
            Lain lagi yang terjadi dengan pemuda-pemuda intifadah yang ada di Palestina. Pemuda Palestina sangat serius menghidupkan kembali masjid-masjid, bukan hanya untuk sholat tapi juga untuk belajar, pertemuan, kajian dan sebagainya. Mereka senantiasa berinteraksi dengan Al. Qur’an. Tilawah Qur’an setiap hari dan menghafalnya adalah kewajiban harian mereka. Tidak heran kalau pemuda-pemuda Palestina menjadikan syahid sebagai dambaan yang tiada terkira, karena santapan Qur’an sudah membuat mereka pada taraf ‘menjual diri pada Allah’ (Annida, Desember 2004).
            Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai pemuda Minang hari ini? Penulis menghimbau rekan-rekan sekalian untuk menjiwai kembali spirit perjuangan tokoh-tokoh besar Minangkabau di era perjuangan kemerdekaan dulu. Hayatilah ide-ide serta nilai-nilai yang terkandung di dalam karya-karya mereka. Bangkitlah saudaraku! Jangan tanyakan apa yang telah diberikan oleh bangsa ini kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang telah kau berikan untuk bangsa ini.

Mimpi Itu..

Sendiri,
Aku berlari dan berlari.
Melewati semak-semak, belukar, ilalang kuning yang kering di tepi kiri jalan.

Makam,
Malam kelam.
Srigala mengintai,
Tajam,
Sorot matanya.

Ada sungai besar dan dalam di tepi kanan jalan.
Jembatan membelah sungai.

Aku terus berlari, tak tau apa yang mau dicari.
Kuikuti saja jalan aspal lurus yang panjang itu.

Matahari merah,
Ada rona kuning keemas-emasan.
Kemudian gelap dan pekat
Yang tidak begitu pekat.

Teseok-seok.
Lelah dan letih.
Gontai dan lunglai.

Haus,
Peluh meleleh,
Tubuh berdebu.
Kumal,
Dekil.

Aku terus berlari,
Sendiri.
Di jalan lurus itu.

Lelah,
Akhirnya sampai juga.

Ada air terjun.
Putih.
Mengalir
Sungai yang jernih.
Batu-batu.
Sejuk, segar.
damai.
Ada beberapa orang disana,
Tapi aku tidak kenal.
Mungkin mereka sedang bertamasya.

Lalu akupun kembali,
Sendiri,
Menyusuri jalan yang tadi.

Malam,
Kelam.
Sungai,
batu-batu.
Lelah dan haus.

Lalu ke bukit.
Hijau tua.
Ada danau tiga warna di bawahnya.

Rumah panggung dari kayu.
Kemudian sungai mengalir ke hilir,
pondok-pondok.
Pohon-pohon.
Lalu Papa.
Kenapa ada Papa?

Sendiri lagi.
Ada tebat-tebat.
Berjalan aku di pematang tebat.
Sendiri.
Siapa pemilik tebat-tebat itu?
Entahlah, dia berkumis dan berkulit hitam.

Ada sebuah Mushola kecil.
Di sebelahnya ada sebuah pesantren yang berlantai dua.
Lalu, Perempuan-perempuan berkerudung dan mushaf.
Turun melewati tangga.
Kenapa aku hanya tergugu.
Termangu.
Terpatung di temapatku.

Lalu, anak-anak.
Mereka mandi di bak Mushola.
Airnya sejuk, segar, jernih.
Lompat-lompatan.
Bermain ciprat-cipratan.
Riang, tertawa gembira.

Kemudian ada stasiun.
Stasiun Kereta Api.
Sepi,
Sunyi.
Tak ada kereta yang lewat.
Kosong,
Relnya kosong,
Peronnyapun kosong ditinggal pergi.

Lalu datang dua orang perempuan berjilbab.
Ditariknya tanganku.
Dibimbingnya aku menyusuri sebuah Mushola.
Sebuah mushola kecil,
Lebih kecil dari Mushola yang tadi.

Lalu masuk.

Mushola penuh.
Semuanya perempuan bertelekung putih,
Kecuali satu,
Ada seorang bersorban dan berjubah putih bersih duduk di tengah; syaf pertama.
Dua perempuan tadi mendudukkanku tepat di depannya.

(Hatiku berkata bahwa mereka telah lama menanti-nantikan kehadiranku.
Semua mata memperhatikan).

Akupun
Tertunduk,
Terpekur.

Lalu menatap,
Wajah bercahaya itu,
Namun kabur.
Penuh kasih,
Penuh sayang.

Hanya satu yang bisa kutangkap dengan jelas;
Dagunya,
Dagu itu..
Dagu indah itu.
^_^
Subhanallah..

Dan,

Asholatukhoirumminannauam..(2x)

***

(belajar menulis)